Almarhumah Julia Perez mungkin telah meninggal lima bulan yang lalu, namun kisahnya telah memicu ribuan BMI di Hong Kong untuk peduli akan kesehatan. Hal tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Konjen RI untuk Hong Kong dan Macau Tri Tharyat pada penutupan Klinik Kesehatan Gratis di Hong Kong pada hari minggu, 12 November 2017, “Tepat sehari setelah Jupe meninggal, saya banyak menerima sms. Bahkan setiap hari, saya diminta untuk cari solusi agar mereka bisa cek kanker serviks di KJRI.” Hal inilah yang mendasari Tri Tharyat untuk mengagas klinik gratis di Hong Kong.
Kegalauan Konjen RI Tri Tharyat selama kurang lebih enam bulan akhirnya terjawab. Pertemuannya dengan Sri Dato Tahir, Pendiri Tahir Foundation akhirnya membuahkan hasil. Tepatnya pada tanggal 6-12 November 2017, KJRI Hong Kong bekerjasama dengan Tahir Foundation dan Rumah Sakit Mayapada membuka klinik kesehatan gratis bagi WNI di Hong Kong. Pemeriksaan kesehatan difokuskan pada pemeriksaan kesehatan umum berupa tekanan darah, gula darah, kolesterol dan asam urat serta pemeriksaan khusus (kesehatan wanita) berupa deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks. Sejumlah tenaga paramedis didatangkan langsung dari Jakarta.
Tercatat lebih dari 1000 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) telah mengikuti acara ini dengan rata-rata 150-170 orang per hari. Kegiatan ini mendapatkan respon dan apresiasi yang positif dari WNI di Hong Kong, khususnya para BMI. Dikutip dari komentar dari pemilik akun Facebook Mamah Fio pada laman Facebook KJRI Hong Kong, ”Alhamdulilah berkat KJRI jadi tau sekarang saya sakit apa dan langsung di bawa ke rumah sakit sekarang saya juga masih dirawat di rumah sakit”.
Namun demikian, dari hasil penulusuran KJRI Hong Kong, ada empat hal yang membuat PMI Hong Kong enggan untuk periksakan kesehatannya di Hong Kong:
Selama ini, BMI sedikit enggan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Pemerintah Hong Kong karena terkendala bahasa. Sebagaimana yang diungkapkan oleh pemilik akun Facebook Bella Winarso pada halaman Facebook KJRI Hong Kong, ” semoga kedepan lebih baik lagi, karena faktor bahasa juga sangat penting untuk BMI yang kurang faham bahasa kanton, jika harus periksa ke RS pemerintah, trimakasih KJRI”.
2. Segan untuk Minta Izin
Ketakutan untuk disudahi kontrak kerjanya menjadi momok tersendiri bagi para PMI. Hal inilah yang membuat mereka segan untuk minta izin kepada majikan apabila merasa kurang sehat. Salah satu PMI mengutarakan ”curhatannya” pada saat KJRI hendak membawanya ke Rumah Sakit karena detak jantungnya sangat tinggi. ”Tolong jangan telepon majikan saya. Saya takut diterminate”, ujar OF.
3. Klinik tidak buka di hari Minggu
Kebanyakan PMI di Hong Kong hanya mendapatkan ”jatah” libur pada hari Minggu. Namun demikian, klinik di Hong Kong banyaknya tidak buka pada hari Minggu. Hal inilah yang membuat para PMI kesulitan untuk memeriksakan kesehatannya.
4. Knowledge is power
Dari hasil wawancara selama pemeriksaan kesehatan berlangsung, banyak PMI yang bingung kemana harus pergi saat merasakan sakit. Hal ini sangat disayangkan karena keterbatasan informasi membuat mereka enggan memeriksakan kesehatan padahal antusiasme mereka untuk hadir di klinik kesehatan gratis KJRI Hong Kong cukup tinggi.
Dengan tingginya animo WNI di Hong Kong untuk berperan serta pada klinik kesehatan gratis dan melihat masih banyaknya WNI yang belum terlayani, diharapkan KJRI dapat membuka klinik kesehatan secara berkala. Sebagaimana mengutip pernyataan Konjen Tri Tharyat, “Saya senang, seribu orang bisa ikut cek kesehatan, meskipun pekerjaan rumah saya jadi banyak. Masih ada 153.000 orang lainnya yang belum kebagian.”
http://ift.tt/2zcqlkH
- Home>
- Julia Perez >
- KJRI Buka Klinik Gratis, PMI Tak Lagi Harus Meringis - Kumparan.com (Siaran Pers) (Blog)