JAKARTA - Mendiang Julia Perez (Jupe), memiliki mimpi untuk bisa memberikan tempat tinggal bagi para penderita kanker. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhir pada 10 Juni 2017 lalu, wanita yang meninggal karena penyakit kanker leher rahim ini sudah sempat membeli rumah yang akan digunakan sebagai tempat tinggal beberapa penderita kanker yang butuh pertolongan namun terbentur biaya.
Baca Juga: Berniat Mendonasikan, Keluarga Batal Lelang Koleksi Baju Julia Perez
Belum sempat merealisasikan mimpinya, Jupe diketahui sudah menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo usai berjuang melawan penyakitnya. Bahkan rumah singgah yang menjadi salah satu amanat terakhir pelantun Ku Dapat dari Emak, hingga kini masih belum juga diperbaiki apalagi dinikmati oleh para penderita kanker.
"Nasib rumah singgah saat ini belum jalan, karena kan terkendala biaya. Banyak orang yang nanya juga, gimana? Aku juga akan pikirkan juga, aku juga bukan dari yang berkelebihan materi, jujur membutuhkan biaya banyak juga. Insya Allah nanti Mudah-mudahan akan banyak yang membantu juga," ungkap Nia Anggia yanh ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa 12 Desember 2017.
Mengaku masih ingin fokus memikirkan secara matang seperti apa konsep rumah singgah milik sang kakak, adik pertama Jupe menyatakan bahwa pihak keluarga memang belum mencari donatur. Bahkan ia menyatakan akan mencari orang yang memang berkompeten dibidang pembangunan agar rumah singgah milik Jupe bisa secara serius mulai diperbaiki.
"Donatur belum, karena aku masih belum buka-buka donatur. Karena aku masih pikirin matang-matang, ini seperti apa. Aku enggak mau salah-salah lagi. Aku masih butuh bantuan orang, aku enggak bisa sendiri. Aku mau minta bantuan orang yang memang paham di bidangnya," paparnya.
Baca Juga: 100 Hari Setelah Ditinggal Jupe, Keluarga Masih Didatangi Lewat Mimpi
Lebih jelasnya, selain dari segi donasi dan perbaikan bangunan, Nia Anggia juga menyatakan bahwa dirinya sangat butuh orang yang memang bisa dengan ikhlas menjaga rumah singgah tersebut. Terutama orang yang paham dengan kesehatan, untuk membantu menjaga dan merawat para penghuni rumah singgak tersebut. Akan tetapi hingga saat ini, ia masih belum menemukan sosok tersebut, yang tentunya juga bisa bekerja dengan hati.
"Aku juga butuh orang yang spesialisnya di rumah singgah itu. Karena aku buta juga soal kesehatan, aku tidak tahu, aku tidak paham. Ternyata Tidak segampang itu. Kita butuh jiwa, hati, cinta di situ. Sementara hati aku sebelah harus kerja juga. Aku harus bangkit juga, jadinya masih setengah-setengah akhirnya ya seperti ini," tukasnya.
(edi)
http://ift.tt/2BebTNw